Entri Populer
-
"Dad is always there for you" Perfect by Simple Plan …And you can't change me 'Cuz we lost it all Nothing lasts forev...
-
Target Farah berjalan di sepanjang koridor menuju kelasnya dengan riang seperti biasanya. Paginya sangat sempurna, namun kesempurnaan itu ak...
-
MY Stories (have fun n enjoy it): Storiku 2010 : "'Dad is always there for you' Perfect by Simple Plan…And you can't chang...
-
MY Stories (have fun n enjoy it): GREat Skies : "Skies form as they are feeling so astonished. what a view!!!"
Minggu, 12 Desember 2010
MY Stories (have fun n enjoy it): Storiku 2010
MY Stories (have fun n enjoy it): Storiku 2010: "'Dad is always there for you' Perfect by Simple Plan…And you can't change me 'Cuz we lost it all Nothing lasts forever, I'm sorry I can'..."
MY Stories (have fun n enjoy it): GREat Skies
MY Stories (have fun n enjoy it): GREat Skies: "Skies form as they are feeling so astonished. what a view!!!"
Sabtu, 11 Desember 2010
Target
Target
Farah berjalan di sepanjang koridor menuju kelasnya dengan riang seperti biasanya. Paginya sangat sempurna, namun kesempurnaan itu akan terganggu dalam hitungan beberapa detik karena beberapa langkah di belakangnya ada seorang siswa yang sedang terburu – buru berlari menyusulnya.
“Farah, jadilah peri penyelamatku sekali lagi.” Itu Diki, sahabat karib Farah sejak SD. Sudah menjadi kebiasaan baginya untuk menjadikan Farah sebagai malaikat penyelamat atas semua tugas dan PRnya.
“Aku juga belum buat, pembajak!” ujar Farah tak kalah memelasnya.
“Farah, tegakah dirimu melihatku, Diki, sahabat karibmu, dijemur di bawah tiang bendera oleh Pak Mas’ud?”
“Bagimu urusanmu, bagiku bukan urusanku.” Ujar Farah sok berkhotbah sambil terus berjalan menuju kelasnya.
“Far, tapi Kimia jam pertama. Tolonglah, please. Lima belas menit lagi bel masuk.”
Farah tetap tidak mempedulikan Diki. Ia meletakkan perlengkapan dan peralatan yang dibawanya di atas meja namun seperti biasa Diki secara tiba – tiba dan dengan ahlinya akan merebut tas Farah dan langsung mengambil buku ataupun tugas yang dibutuhkannya. Setelah itu… KABUR!
“Diki..! Kembalikan! Awas kalau terlambat!” Ancam Farah sambil berkacak pinggang.
“Nanti istirahat pertama.” Seru Diki sambil berlari keluar kelas.
“Kena bajak lagi?” Icha teman sekelas dan sahabat Farah mendekatinya sambil membantu merapikan peralatan yang baru saja didera gempa berskala Diki.
“Seperti yang kamu lihat sendiri.” Ujar Farah sambil mengangkat pundak dengan telapak tangan terbuka.
“Ada kabar terbaru, Bigos, Biang Gosip?” Farah mengalihkan pembicaraan.
“Tentu!” Icha langsung menjawab dengan tangkas. “Ingat Freddy?” Dengan ragu Farah menjawab dengan gelengan bingung.
“Freddy yang pernah sakau akibat kecanduan.” Bisik Icha perlahan di telinga Farah.
“O…iya aku ingat sekarang. Freddy yang telah mencoreng nama sekolah kita karena mengkonsumsi narkoba.” Ujar Farah dengan suara agak keras.
“Sttt! Jangan keras – keras.” Icha membekap mulut Farah namun Farah dengan sigap menyelamatkan mulutnya.
“Itu sudah menjadi rahasia umum sekolah kita, semua orang juga sudah tahu, kan ?”
“Iya, tapi kamu juga tidak perlu berbicara setengah teriak.” Farah nyengir dan mengagguk mengerti sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V sebagai ungkapan janji.
“Jadi, apa informasinya, Cha?”
“Nanti ceritanya dilanjutkan soalnya Bu Mayang…” Icha tidak menyelesaikan kata – katanya karena Bu Mayang, wali kelas mereka sudah tiba di depan kelas.
“Selamat pagi semuanya.”
“Pagi, Bu.” Seluruh siswa menjawab dengan kompak diketuai oleh Irham sang kapten dan juga sahabat Farah.
“Anak – anak, Ibu yakin kalian ingat Freddy?” Bu Mayang membuka pembicaraan kelas yang diamini oleh anggukan para siswa.
“Sekarang dia sedang dalam tahap pemulihan atas ketergantungannya terhadap obat – obatan. Jadi semuanya mohon beri dia bantuan moril.” Lanjut Bu Mayang.
“Bagus dong, bu. Jadi nama sekolah kita benar – benar bersih sekarang.” Bagus ikut mengomentari.
”Bagus!” Bu Mayang memelototi Bagus yang langsung menunduk.
“Jangan bicara begitu. Freddy tetap saudara kalian.” Bu Mayang langsung menuju meja guru dan memberi isyarat pada Irham, ketua kelas, untuk memimpin doa pagi.
***
“Dik, kabar tentang Freddy benar, ya?” Tanya Farah pada Diki yang kembali menghampiri kelasnya guna mengembalikan buku “rampasannya”.
“He-eh. Sekitar satu minggu ini dia sudah aktif seperti biasa, terlihat normal dan sehat.”jawab Diki cuek. “Eh, Far, makasih, ya PRnya.” Tapi Farah tidak terlalu mempedulikan ucapan terima kasih Diki.
“Cha, jangan sampai kita kecanduan seperti Freddy, seram.” Ujar Farah setengah bergidik.
“Ada – ada saja, Far.” Icha mengomentari ucapan Farah. “Dik, kalau kabar dia kena AIDS benar?”
“Husss. Jangan sembarangan!” Diki sedikit membentak Icha sambil duduk di kursi di depan meja farah dan Icha, pastinya langsung menyambar chiki Lays yang dengan tenangnya istirahat di meja kedua siswi itu.
“Jadi benar, ya?” Tanya Icha semakin penasaran.
“Banyak yang menyangka begitu,” Diki meletakkan sebentar chiki rampasannya rada enggan, “tapi sepertinya hanya gosip. Maklum dia sudah membuat nama sekolah kita tercoreng dengan keterlibatannya dalam narkoba. Jadi, mungkin saja kabar tersebut sebagai ungkapan sakit hati pada Freddy.” Lanjut Diki.
“Kamu kelihatannya yakin kalau Freddy bebas AIDS?” Farah ikut nimbrung.
“Kemarin Pak Mahdan yang ditunjuk jadi pembimbing Freddy sudah menjelaskan mengenai kondisi Freddy yang sebenarnya. Bahkan ada hasil tes lab rumah sakit.” Dengan mulut penuh remah Lays, Diki menjelaskan yang dia ketahui pada dua peri sekolahnya itu.
“O…” Icha sontak menjawab.
“Reaksinya terlalu bulat, Cha. Tapi pasti sulit dibayangkan kalau tertular AIDS. Jangan sampai aku ataupun yang lain tertimpa penyakit kutukan itu.”
“Tak seorangpun yang mengharapkannya, Far.” Diki mengebas – ngebas tangan dan celana seragamnya dari remah chiki dan bersiap meninggalkan kedua temannya tersebut. Dan tak lama berselang bel berakhir istirahat berbunyi.
“tet..tet..tet..”
Tak seorangpun dari ketiga sahabat tersebut menyadari bahwa pembicaraan singkat mereka pada jam istirahat tersebut akan menjadi sebuah bumerang di kemudian hari.
Beberapa minggu kemudian…
Kembali aktifnya Freddy di sekolah tidak terlalu membuat para siswa merasa risih meskipun di awal – awal kedatangannya juga masih menuai pandangan jijik dan dingin dari banyak siswa. Namun hal ini semakin berkurang seiring dengan bertambahnya kesibukan para siswa dalam mengikuti berbagai kegiatan sekolah, pembuatan tugas dan tentunya menghadapi berbagai kuis yang semakin gencar diadakan oleh berbagai guru.
Tidak ada perubahan yang berarti, paling tidak bagi siswa – siswa lainnya.
“Annadiyah Farahdiba.” Bu Mayang mengabsen siswanya.
“Absen, Bu.” Sahut Irham.
“Ada kabar?” Bu Mayang mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
”Kita semua tidak tahu, Bu. Sudah coba hubungi tapi nggak nyambung. Datang ke rumahnya kosong. Tapi nanti siang Icha akan menanyai Diki lagi.” Lanjut Irham.
Bu Mayang mengangguk lalu kembali melanjutkan memanggil nama – nama lainnya. Semua berjalan dengan biasa.
***
“Kamu yakin Diki berkata yang sebenarnya, Cha? Masak sih, orang tua Farah bercerai. Keluarga mereka kan adem ayem.” Irham merasa sangat tidak mungkin untuk mempercayai cerita Icha tentang apa yang terjadi pada Farah.
Icha, Irham, dan Bagus sengaja pulang terlambat karena ingin membahas tentang apa yang terjadi dengan Farah. Icha menceritakan semua yang didapatkannya dari Diki. Tak seorang pun yang menyadari kalau Freddy mendengarkan pembicaraan mereka dari luar kelas.
“Kita harus membantu Farah. Selama ini dia selalu aktif membantu kita semua.”
“Aku setuju dengan pendapatmu, Ham. Tapi bagaimana caranya? Kita tidak tahu menahu di mana Farah dan keluarganya sekarang. Kita cuma bisa minta tolong pada Diki. Tapi itupun belum tentu berhasil karena Diki juga merahasiakan tempat tinggal Farah yang baru. Dan kayaknya Diki nggak mau memberi tahu alamatnya pasti Farah sendiri yang sudah melarangnya. Kita semua tahu sifat Farah.” Ujar Bagus dengan nada putus asa. Mereka semua tahu Farah tidak pernah ingin melibatkan teman – temannya dalam semua permasalahan apapun yang dihadapinya.
Sudah sepuluh hari Farah bolos sekolah dan tak seorangpun yang bisa menghubunginya kecuali Diki. Tapi tidak mudah untuk mendapatkan informasi dari Diki. Dia sangat lebih berhati – hati lagi dalam menginformasikan apapun tentang Farah. Dia sangat rapi menutupi keberadaan Farah, sesuai dengan yang diinginkan sahabatnya itu tentunya.
Hari – hari mulai berubah bagi sahabat – sahabat itu. Ada sebagian keceriaan yang tertinggal dengan absennya Farah dari pergaulan mereka. Diki yang biasa pulang sambil meracaukan berbagai tugas yang tentunya akan meminta Farah untuk membantunya kini mesti pulang dengan gontai dan rada diam.
“Hei, Diki, tunggu.” Freddy berseru sambil setengah berlari kearah Diki.
“Eh, Lo, Fred. Ada apa?”
“Gue udah denger tentang Farah. Gak sengaja denger teman – temannya ngomong. Bisa kasih tahu di mana Farah.”
”Ada apaan,nih.tumben banget lo nanyain Farah?” sambil tak acuh Diki mulai berjalan lagi. Pikir hatinya “Ngapain ni orang, tiba – tiba muncul nanyain Farah. Emang dia siapanya Farah.”
“Weitss. Jangan curigaan gitu, dong.” Seru Freddy sambil menyusul Diki lagi yang berhasil membuyarkan pikiran Diki, “Gue cuma mau membantunya. Secara gue juga pernah berada di posisi dia. Nggak mau kan bintang sekolah kita jadi kayak gue dulu.” Jelas Freddy dengan menyakitkan. “Suer, Dik. Gak enak jadi kayak gue. Gak mungkin kan kita tega liat Farah jadi terlalu down terus jadi korban keganasan duniawi.”
“Sumpah, Dik. Gue yakin, sekarang ini Farah pasti ngerasa shock banget. Dia butuh teman sharing. Dan gue ngerti perasaan temen loe itu. Gue juga produk broken home, Dik.” Terdapat nada ketulusan dalam ucapan Freddy.
Diki memikirkan kata – kata Freddy. Ia sadar bahwa orang seperti Freddy pasti bisa membantu Farah mengingat kesamaan permasalahan yang pernah dihadapinya. Selama dua minggu ini dia rutin mengunjungi Farah tapi dia sadar dia tidak sepenuhnya bisa membantu Farah karena dia tidak pernah mengalami hal yang sama. Terjadi pergulatan singkat dalam batinnya mengingat siapa yang sedang berbicara dengannya tapi melihat gelagat yang ada, Diki merasakan ketulusan dalam ucapan Freddy.
“Loe benar juga. Gue nggak tahu lagi siapa yang bisa bantuin Farah. Dia sangat kacau dan terpukul dengan perpisahan orang tuanya. Keluarga juga sama sekali nggak nyangka kalau papanya selama lima tahun ini selingkuh dari mamanya. Farah syok dan malu bertemu teman – teman. Papa yang selama ini sangat dibanggakannya telah membuat Farah merasa sangat malu sering menyatakan alangkah bangganya ia dengan papanya itu.” Freddy mendengarkan Diki dengan seksama.
“Loe serius mau bantu, Fred?” Diki menatap Freddy dengan seksama yang dibalas dengan anggukan mantap Freddy.
“Kasus Farah sama dengan yang gue alamin dulu, Dik. Jadi gue pasti bisa bantu. Kapan gue bisa ketemu Farah? Dan kayak gue bilang tadi, gue nggak mau bintang sekolah kita jatuh ke jurang yang sama kayak yang gue alami dulu.” Diki tersentuh dengan ucapan Freddy.
“Oke, Fred, kalo loe memang serius mau bantuin Farah besok gue tunggu di warung depan itu. Jangan sampai ada yang tahu.” Ucap Diki sambil melirik warung yang dimaksud. Freddy mengangguk mengerti.
“Oke,deh. Besok gue tunggu loe di depan warung itu. Gue cabut dulu ya.” Ujar Freddy sambil berlalu dari Diki.
***
Siang itu Diki mengajak Freddy datang ke rumah Farah dan seperti ucapannya Freddy memang menunjukkan niat untuk membantu Farah. Dan ternyata keputusan Diki untuk melibatkan Freddy memang memberikan dampak positif bagi perkembangan moral Farah. Kehadiran Freddy di kehidupan Farah merupakan obat yang mujarab bagi masa suramnya. Freddy banyak membantu Farah kembali menemukan semangat hidupnya. Mama Farah pun merasa sangat berterima kasih atas kesediaan Freddy untuk membantu putrinya. Seminggu setelah diajak Diki ke rumah Farah Freddy tak pernah absen mengunjunginya.
“Apa kabar, Far?”
“Top. Thanks ya, berkat kamu dan Diki aku jauh lebih kuat sekarang mungkin besok aku sudah siap sekolah.” Diki dan Freddy tersenyum senang mendengar ucapan Farah.
***
Minggu demi minggu berlalu, setelah hampir tiga bulan Farah benar – benar lupa masalahnya. Kini Farah telah menemukan keceriaan dan semangat belajarnya. Ia juga semakin akrab dengan Freddy dan mungkin agak bergantung. Semua teman – temannya terutama Diki dan anak – anak di kelasnya sangat senang melihat keceriaan dan semangatnya. Tapi di satu sisi, Diki, Icha, Bagus dan Irham merasakan sedikit kejanggalan dalam sikap keseharian Farah setelah ia semakin akrab dengan Freddy. Ia sering terlihat melamun, namun terkadang mereka menganggap kalau Farah sedang jatuh cinta saja. Jadi mereka tidak terlalu ambil pusing dengan beberapa perubahan Farah karena mereka anggap itu wajar bagi yang baru pertama kali mengenal asmara seperti Farah.
***
“Teman – teman, kurang dari dua bulan lagi ujian akhir. Jadi besok kita harus ikut general check up. Tim medis Dinkes akan datang ke kelas kita saat pelajaran Bu Mayang.” Irham menyampaikan info mengenai akan adanya tess kesehatan pada teman – teman sekelasnya. Dan disambut dengan perasaan senang dari pojok para siswa dan disambut dengan muka meringis dari para siswi yang ketakutan membayangkan jarum suntik.
***
***
“Cha, Farah kenapa?” Diki tiba – tiba muncul.
“Aku juga gak tahu, Dik. Setelah baca hasil check up dia langsung pingsan.” Penuh dengan ekspresi bingung dan sambil mondar – mandir di depan pintu UKS dan tidak menyadari kalau sedari tadi dia terus memegang kertas hasil pemeriksaan Farah sebelum Diki yang tiba – tiba langsung merebut kertas tersebut.
“Apa? Farah nggak mungkin...” Suara Diki otomatis menghentikan gerak mondar – mandir Icha. Icha merebut kembali kertas tersebut dari Diki. “AIDS? Mustahil!”
“AIDS apaan sih, Cha?” Icha menyerahkan kertas tadi pada Irham dan Bagus yang juga dari tadi berdiri di sana .
Sementara itu…
“ha … ha…ha…, pasti semuanya syok berat”
“Loe yakin dia positif, Fred? Kok bisa?”
“Pernah beberapa kali dia gue inject dengan jarum bekas gue.”
“Jelasnya?”
“Saat dia depresi, gue langsung menawarkan bantuan dan gue sering memasukkan “ramuan kita” ke dalam minumanya. Saran loe asli manjur, Bon.”
“Itulah hebatnya gue, Boni, The Master of “Flying” Stuffs.” Sahut Boni. “Asli! Gila banget, ni orang.” Boni diam sejenak guna menyesap rokoknya, “Jadi gak ada yang tahu kalo loe AIDS.” Boni menggeleng – gelengkan kelapa sambil melepaskan sesapan rokoknya hingga penuh asap mengepul.
“Of course. Sebenanya gue pengen loe liat, Bon gimana memelasnya wajah tu cewek buat selalu gue temenin.” Freddy terus tertawa penuh kemenangan. “Fred, thanks ya udah mau jadi teman curhatku, aku nggak tahu gimana jadinya hari – hariku kalau kamu nggak diajak Diki ke kemari. Fred, Fred,” Freddy kembali tertawa terbahak – bahak, “Geli banget gue dengernya, Bon. Fred…Fred,” Freddy menirukan gaya bicara Farah. Mereka terus bicara panjang lebar mengenai target yang telah mereka capai sambil terus ditemani kepulan asap rokok.
“Terus semangat,Bon. Kita harus menghabisi orang – orang yang sok sempurna dari hadapan kita.”lanjut Freddy.
“Maksud loe, Fred?” Boni belagak pilon.
“Jangan sok lugu, Bon?”
“Loe udah punya target baru?”
“He eh.”
“Siapa? Temen tu cewek?”
“Gak level. Gue mau nyerang cowok sok perfect dan sok alim di sekolah gue, si ketua OSIS.”
“Loe, tu emang udah kebanyakan obat, ya, Fred. Awas, ntar kedok tobat loe kebongkar.”
“Tenang, sob. Selagi loe siap bantu gue, kita pasti berhasil nyingkirin orang – orang sok itu. Mereka harus rasain gimana rasanya dicemooh dan disingkirkan.”
“Yoi, bro. Fred, gue udah kebelet nyimeng nih. Udah, ya.”
“Oke,oke Bro. Have fun, bro.” Boni langsung mematikan HPnya dan kembali ke dunia fantasianya.
Freddy juga segera mengakhiri panggilan dengan senyum penuh kemenangan dan ia juga kembali ber”flying” ria tanpa mempedulikan nasib yang telah terjadi pada “korbannya”.
Kamis, 09 Desember 2010
Storiku 2010
![]() |
| "Dad is always there for you" |
Perfect by Simple Plan
…And you can't change me 'Cuz we lost it all
Nothing lasts forever, I'm sorry I can't be perfect
Now it's just too late and We can't go back I'm sorry I can't be perfect
Nothing lasts forever, I'm sorry I can't be perfect
Now it's just too late and We can't go back I'm sorry I can't be perfect
Alunan lagu “Perfect”nya Simple Plan terus menemani Dita selama menulis dan merekam kegiatannya selama sepuluh tahun terakhir ini. Beberapa hari ini dia sangat tekun merangkum semua kejadian saat itu. Kisah rangkuman kehidupan.
“Finally, aku bisa menyelesaikannya. Leganya…. Jogja, I’m coming.” Dita menutup diarinya setelah menyisipkan kaset rekamannya. “Mudah – mudahan Ayah suka hadiah ini. Happy B'day, Ayah." Dengan lembut Dita mengecup kaset rekaman dan diary sebagai kado ulang tahun tersebut.
Disematkannya sebuah pita biru yang menjadikan diari itu terlihat lebih bersahabat dan menyampaikan kesan berdamai sesuai maksud tujuannya menuliskan keluh kesah versi Dita pada ayahnya dan sekaligus sebagai hadiah ulang tahun emas ayahnya. Dibuatnya sebuah gambar seperti scene pembuka hp nokia, tangan ayah dan anak, gambar yang penuh kesan kebersamaan dan saling merangkul. Dan lagi – lagi itulah keinginannya, terangkul dalam sebuah hubungan kehangatan.
Tiga belas minggu kemudian…
“A-ay-y-a-h…” ucap Dita tersendat – sendat.
“Sudah, nak. Jangan bicara lagi…” Pak Amran merasa sangat terpukul mendengar suara anaknya.
”Ya-ahh, m-a-a-f-i…”
“Iya. Ayah nggak marah. Ayah tidak pernah membenci Dita.” Pak Amran menyela ucapan Dita.
Dita tersenyum mendengar sahutan ayahnya. Ada beban melayang dari rongga dadanya. Dita merasa sangat plong.
”Kamu bertahan ya, nak. Tunggu ayah! Kak Awo sedang mencari tiket.”
Dita tidak menyahuti ayahnya, dia hanya tersenyum penuh bahagia...
***
Awo memanfaatkan keadaan ayahnya yang sedang berbahagia untuk menyampaikan kado pemberian adiknya.
”Yah, kado dari Dita. Dititip sebelum kuliah.” Awo mengulurkan bukusan diary dan kaset rekaman Dita.
Pak Amran tidak terlalu menggubris ucapan Awo, beliau terus mendatangi tamunya satu per satu. Bu Itsna hanya tersenyum kecut melihat reaksi suaminya dan mengisyaratkan Awo untuk menyerahkannya nanti.
***
“Kak Awo, titip kado buat ayah!” Dita meletakkan bungkusan kadonya ke dalam genggaman Awo dengan pandangan memohon.
“Kan masih tiga bulan lagi, dek.” Awo berusaha menolak kado yang disodorkan Dita.
”Yee.. Kakak lupa, ya. Minggu depan aku sudah berangkat ke Jogja, Kak” Dita mengucapkan kalimatnya dengan penuh penekanan pada tiap kata.
”Itu, sih kakak tahu. Tapi tahun ini ulang tahun emas ayah. Kok kamu nggak ngasih hadiahnya langsung?” Ditariknya adik kesayangannya itu duduk lebih merapat ke sisinya sambil mengacak rambut lembut Dita.
“Takut ditolak lagi, kak. Apalagi tahun ini ada pesta besar. Nanti aku malah merusak mood ayah di pestanya. Nah, kalau aku absent di pesta itu ayah pasti leluasa.” Dita berkata dengan lirih.
”Jadi, kamu absen di pesta ayah?” Awo memperhalusan belaian di kepala adiknya itu sambil menarik kepala Dita jatuh ke pundaknya. Dia paham kegalauan adiknya.
”Sepertinya begitu. Nanti kakak yang akan buat alasan ketidak hadiranku, ya.”
Awo tidak lagi mencoba membantah ataupun mencoba menasehati Dita karena diapun sadar kalau posisi adiknya memang sangat sulit di hadapan ayahnya. Dia tidak berniat untuk menasehati adiknya karena selama sepuluh tahun ini Dita selalu mengalami posisi yang sulit. Awo menepuk pundak Dita, didekapnya adiknya dengan lembut karena ia tidak ingin adik kesangannya merasa lebih sedih.
***
”Yah, sampai kapan ayah akan bersikap seperti ini pada Dita? Semua kejadian itu bukan kesalahan Dita, yah. Dita hanya perantara…”
Awo tidak menyelesaikan penjelasannya begitu melihat ayahnya berbalik dengan mata melotot tapi tetap diam. Awo diam sesaat menunggu ayahnya mengucapkan sesuatu tapi ayahnya masih tetap diam.
“Yah! Buka mata ayah! Ayah sadar! Anak ayah bukan hanya Kak Aran, masih ada aku dan Dita. Jangan jadikan meninggalnya Kak Aran karena menyelamatkan Dita sebagai alasan Ayah untuk membencinya…”
“Awo!! Bentakan Pak Amran memutus kalimat Awo.
”Yah, aku sadar aku salah bicara pada Ayah dengan cara seperti ini.” Awo mencoba mengeluarkan keberaniannya meskipun diliputi rasa berdosa karena cara bicaranya yang tak lazim dan tak pantas. ”Tapi tolong, yah. Tolong Ayah pikirkan bagaimana perasaan Dita selama ini. Sepuluh tahun cukup lama bagi Dita untuk tersiksa karena rasa bersalahnya dan kebencian ayah. Ayah mungkin tidak memperhatikan kalau Dita telah melangkah terlalu jauh dari cita – citanya. Dia sengaja mengubur keinginannya untuk mendalami apa yang menjadi minatnya. Dia sengaja menjalani mimpi yang menjadi harapan Kak Aran, eh bukan harapan Ayah. Impian Ayah yang telah dengan paksa Ayah bebankan pada Kak Aran."
Awo semakin berani, semakin dikumpulkannya seluruh keberanian untuk menyampaikan apa yang menganjal dalam hatinya dalam satu dekade ini. Awo terus mengutarakan kata – katanya dengan keberanian yang semakin membuncah seolah – olah seluruh semesta mendukungknya untuk berbuat begitu terlebih lagi karena dilihatnya Ayahnya belum memberikan respon apapun selain bentakan pertama tadi. Pak Amran sendiri tetap berdiri membelakangi Awo yang terus berusaha membela adiknya.
“Terserah apa yang akan Ayah lakukan pada pemberian Dita. Mudah – mudahan Ayah tergerak untuk memahami Dita!”
”Buang sa…”
Pak Amran berbalik namun langsung menghentikan kata - katanya karena Awo sudah menghilang setelah meletakkan hadiah pemberian Dita di atas meja kerjanya.
***
Hey dad look at me, think back and talk to me,
did I grow up according to plan?...
But it hurts when you disapprove all along
Jikalau aku bisa jadi sempurna
And now I try hard to make it I just want to make you proud
I'm never gonna be good enough for you I can't pretend that I'm alright
I'm never gonna be good enough for you I can't pretend that I'm alright
”Ayah nggak datang, Bu?”
Ibu menggeleng lemah dan aku duduk dengan lesu di samping beliau. Kulihat ibu melirikku yang masih memasang ekspresi tanpa semangat. Beliau tahu kalau aku kecewa dengan ketidak hadiran ayah di acara penobatanku sebagai pelajar terbaik untuk wilayah Sumbagsel.
Prestasi yang ku dapat hari ini ku harapkan bisa membuat ayah bangga padaku. Harapan ku dengan prestasi ini bisa membuatnya bahagia dan bangga saat bercerita pada semua kolega dan masyarakat bahwa pelajar terbaik se Sumbagsel 2007 adalah aku Tridita Wasilah, putri ketiga Bapak Amran Kholid juragan dan pengusaha ikan. Dan sebenarnya berbagai rencana telah kususun untuk momen hari ini. Aku akan membuat foto bersama di rumah, traktir makan di warung pecel lele favorit kami, dengan uang hadiahku tentunya, aku ingin berteriak penuh kegeringan dalam dekapan ayah yang akan dengan susah payah menenangkanku, dll. Namun, dengan gelengan ibu tadi sirna sudah harapanku. Ayah tetap nyaman dalam kedinginan dan kebekuan hatinya, tak bergeming.
Kejadian hari ini mengingatkanku pada sebuah ujaran, Men propose, God disposes, kita manusia hanya bisa berencan, Tuhanlah yang menetukan segalanya. Dan sekarang sudah Dia putuskan belum saatnya untukku merasakan hari – hari indah kami dulu.
Ku enyahkan pikiran – pikiran negatifku, aku tidak mau merusak momen hari ini. Jangan mengecewakan ibu yang pasti sudah sangat memohon pada ayah agar diizinkan mendampingiku hari ini. Well, paling tidak masih ada ibu di sampingku. Ibu kan istrinya ayah, jadi anggap saja ayah ada di sini duduk di samping ibu, mereka kan pasangan flamboyan, ada ibu pasti ada ayah.
Syukurlah, keputusanku membuatku bisa menyelesaikan momen hari ini dengan kebahagian penuh. Ku peluk erat ibu dua kali karena kuanggap sekali untuk ibu dan sekalinya lagi untuk ayah. Setibanya di rumah dengan manja aku bergelayut di lengan Kak Awo. Dengan sombongnya ku pamerkan Piala itu. "Wuihh, gede,Kak, kakinya aja empat." Aku nggak peduli dengan senyum mesem - mesem kak Aran. " yee... mesem - mesem, sirik, ya belom pernah dapat piala ginian."
Karena nggak tahan dengan kata - kataku kak Awo langsung meluncurkan jurus pamungkasnya, disumpelnya mulutku dengan bubble gum favoritku, terus dia mendudukkanku di pangkuannya sambil memencet hidung mungilku.
"Dengernya adik manis yang sok pamer. Kalo nggak berhenti pamer - pamer nanti malam kakak batal mau beli volume terbaru komik itu." Senjata Kak Awo memang ampuh langsung tepat mengenai sasaran, aku langsung terdiam mencoba memikirkan kata - kata agar Kak Awo mau menarik ancamannya. Dan aku tahu apa yang mesti ku katakan.
"Hmmmm,.." kubuat suaraku penuh misteri, "Nggak papa kakak batal beli komik itu, kan Dita dapat uang hadiah, bisa beli sendiri,kok. tapi jangan harap kakak bisa dapat info lagi mengenai kakak kelasku yang manis itu." Penuh senyum kemenangan aku menatap Kak Awo yang sudah berhasil kutaklukan. "Mo coba - coba melawan Dita."
"Adek bandel..." Kak Awo tidak meneruskan kata - katanya karena tiba - tiba Ayah masuk ruang tamu dan aku langsung meloncat turun dari pangkuan Kak Awo. Ah, seandainya bisa bermanja - manja di pangkuan Ayah juga.
Karena nggak tahan dengan kata - kataku kak Awo langsung meluncurkan jurus pamungkasnya, disumpelnya mulutku dengan bubble gum favoritku, terus dia mendudukkanku di pangkuannya sambil memencet hidung mungilku.
"Dengernya adik manis yang sok pamer. Kalo nggak berhenti pamer - pamer nanti malam kakak batal mau beli volume terbaru komik itu." Senjata Kak Awo memang ampuh langsung tepat mengenai sasaran, aku langsung terdiam mencoba memikirkan kata - kata agar Kak Awo mau menarik ancamannya. Dan aku tahu apa yang mesti ku katakan.
"Hmmmm,.." kubuat suaraku penuh misteri, "Nggak papa kakak batal beli komik itu, kan Dita dapat uang hadiah, bisa beli sendiri,kok. tapi jangan harap kakak bisa dapat info lagi mengenai kakak kelasku yang manis itu." Penuh senyum kemenangan aku menatap Kak Awo yang sudah berhasil kutaklukan. "Mo coba - coba melawan Dita."
"Adek bandel..." Kak Awo tidak meneruskan kata - katanya karena tiba - tiba Ayah masuk ruang tamu dan aku langsung meloncat turun dari pangkuan Kak Awo. Ah, seandainya bisa bermanja - manja di pangkuan Ayah juga.
***
Did you know you used to be my hero? All the days you spend with me
Now seem so far away And it feels like you don't care anymore
My Greatest moment!
“Yah, takut.”
“Dita pasti bisa. Kemarin kan sudah latihan!” Ayah meyakinkanku agar aku berani mengendarai sepeda. Sudah beberapa hari ini Ayah selalu membujukku untuk latihan naik sepeda.
”Yah, nggak berani. Kalau jatuh bagaimana?” aku tetap saja gemetar dan takut menaikinya walaupun ayah terus menyemangatiku.
”Ayah yakin, Dita pasti bisa. Di hitungan ketiga ayah, naikkan kedua kaki.” jelas ayah di sela anggukan semangat dan ketakutanku.
”Tapi ayah pegang dari belakang, kan?”
”Iya.” ucap ayah dengan sabar. ”Satu, dua, tiga, jalan!” dan saat ayah mengatakan jalan dengan pasrah dan tertatih ku kayuh sepedaku mungkin sekitar sepuluh meter jauhnya.
”Benar kan kata ayah. Dita pasti bisa.”
Suara ayah tidak terdengar sejelas tadi jadi aku langsung menoleh. Dan aku sangat tidak percaya yang baru saja kualami, aku mengayuh sepedaku tanpa dipegangi ayah. Ayah tersenyum senang ke arahku. Dan secara naluriah aku ingin mencoba lagi.
”Ayah, sekali lagi!” Aku melambaikan tangan meminta Ayah mendekat ke arahku.
”Besok lagi. Sekarang ayah harus ke kolam.” ayah menolak permintaanku dengan halus. Ekspresiku langsung mengeruh namun tetap diam. Aku tahu kalau ayah berkata ”tidak” artinya tidak akan ada segala macam bentuk rayuan yang akan mengubah keputusannya. Meskipun aku memasang wajahku yang paling memelas ayah tidak akan bergeming. Dan pada akhirnya aku harus dengan sangat berat hati menuruti keputusan ayah di saat lonjakan semangat menohok perut dan otakku karena aku ingat ”tidak” yang ayah maksudkan adalah titah dan hanya satu konsekuensinya ”patuh”.
”Biar Aran, Yah!” ujar Kak Aran yang tiba – tiba muncul di belakang Ayah. Ah, Kak Aran memang seperti pelindung istimewa, pelindung semangat agar tidak salah arah. Sifat Kak Aran yang menurutku sangat sempurna menjadikannya selalu istimewa dan sifat istimewanya itulah yang membuatku selaku anak bungsu tidak pernah merasa iri kalau Ayah dan Ibu lebih menganak emaskan dia daripada aku dan Kak Awo. Dan satu hal yang selalu kuingat kesediaan Kak Aran merupakan kesediaan Ayah juga. Aku menghitung dalam hati menunggu ayah mengatakan ”ya”.
”Lanjutkan dengan Kak Aran saja.” ujar ayah setengah berteriak dan berlalu meninggalkan kami berdua. ”Horee” mungkin itulah yang diucapkan oleh seluruh sel tubuhku.
”Yuk, Dit!” Ajakan Kak Aran membuatku tambah semangat.
”Aran!” panggil Ayah yang tiba – tiba muncul lagi.
”Ada apa, Yah?”
”Jangan lama – lama! Secepatnya susul ayah ke kolam! O iya, kalian berdua hati – hati!”
”Beres, yah.”
Sepeninggalan ayah, aku berlatih ditemani Kak Aran. Entah beberapa putaran yang ku lakukan dan terkadang terjadi insiden jatuh namun aku tetap semangat empatlima dan hasilnya aku semakin lancar bersepeda meskipun terkadang masih dipegangi dari belakang.
”Nah, sekarang mulai dari sini dan kakak nggak pegangi lagi.”
Dengan luapan kegembiraan ku kayuh lagi sepedaku menempuh jarak yang lebih jauh dan mendekati jalan raya. Samar – samar ku lihat bayangan Kak Aran berlari mengikutiku sambil terus memberikan instruksi padaku.
Brakk!!!
***
Please don't turn your back I can't believe it's hard Just to talk to you But you don't understand
Entah kapan ayah bisa menerimaku lagi? Jujur aku sudah tak sanggup lagi menghadapi sikap ayah yang dingin penuh benci padaku. Entahlah aku juga bingung dengan rencana Tuhan. Kalau akibatnya akan jadi seperti ini, mengapa Dia tidak memanggilku saja, bukan Kak Aran. Aku tidak mengerti dengan rencana Tuhan ini.
Aku terus berusaha menjadi anak yang membanggakan bagi ayah, tapi itu semua tak berarti bagi nya. Walaupun aku bisa menjadi pelajar terbaik, juara tingkat nasional, kebanggaan sekolah dan masyarakat, namun itu tidak membuat ayah membagi sedikitpun kebanggaannya padaku.
Keberhasilanku mendapatkan berbagai prestasi termasuk yang belum pernah diraih Kak Aran, anak emas ayah, tetap tidak bisa membuat ayah berkata “Ayah bangga padamu, Nak! Mulai sekarang jangan pernah bersedih lagi! Kejadian itu hanya kecelakaan dan Ayah tidak pernah marah ataupun membenci Dita karena kejadian yang menimpa Kak Aran. Jangan pernah memikirkan hal itu lagi. Ayah sangat bahagia memiliki Awo dan Dita seperti sekarang ini. Terlalu lama Ayah membuatmu merasa bersalah, Nak.”
Well, itu hanya terjadi dalam drama imaginary yang ku sutradarai sendiri karena kenyataannya adalah Ayah tetap merasa sangat muak melihatku. Entah kapan panggilan “Nak” akan ku dengar lagi dari Ayah saat memanggilku.
Tapi setidaknya aku sudah membuat keputusan yang akan membahagiakan Ayah. Aku telah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di bidang perikanan sebagaimana yang diharapkannya pada Kak Aran dulu meskipun tetap tidak membuat ayah memberikan setitik saja perhatiannya untukku. Walaupun kenyataan pahit yang kuhadapi bahwa aku tetap dianggap Ayah seperti makhluk yang memuakkan dan seharusnya disingkirkan. Tapi aku yakin keputusan ini akan membuat Ayah bahagia. Aku yakin sekali. Aku akan kuliah di Jogja dengan beasiswa yang kudapatkan dari pemerintah propinsi, jadi tidak akan menggunakan biaya dari ayah. Dan yang paling terpenting JARANG PULANG…
“Ayah. Barusan Ibu telepon dari Jogja.” Pak Amran berhenti membaca diari Dita yang dibacanya sejak kemarin saat mendengar datang suara di belakangnya.
”Ibu ke jogja? Kapan, Wo?” tanya Pak Amran sambil melepaskan kacamata sambil mengucek - ucek mata supaya Awo tidak melihat bekas air mata beliau.
”Jam sepuluh tadi pagi waktu ayah di kolam. Ibu sengaja berangkat diam – diam karena takut dilarang ayah.” Jelas Awo.
Pak Amran tidak menanggapi kalimat terakhir Awo.
”Kampus Dita kena Gempa, yah. Dita salah satu korbannya.” Lanjut Awo melihat ayahnya tidak terlalu bereaksi.
“Terus?”
”Yah, kita harus segera ke sana!”
”Sudahlah, Wo. Kan, sudah ada ibumu.” Tegas Pak Amran.
“Ayah, adek sekarat. Dia menunggu maaf ayah.” Pak Amran tidak merespon Awo.
“Yah, sekali ini saja. Tolong bagi perhatian Ayah untuk adek. Tolong Ayah, berhentilah membenci Dita. Tolong maafkan dia. Berikan setitik saja cinta Ayah yang dulu pernah ada untuk Dita, Yah! Mungkin salah Awo sudah pernah berani berkata lantang pada Ayah hari itu, tapi itu karena Awo nggak sanggup lagi dengan sikap Ayah pada Dita. Yah, sekali ini, tolong, Yah. Tolong hilangkan dulu benci Ayah, Adek sekarat,Yah. Adek menunggu Ayah, haruskah dia juga menderita di saat - saat seperti ini.” Pak Amran diam membisu mendengar ucapan Awo.
***
“Ditaaa… Nak, tadi ayah sudah katakan Dita harus menunggu Ayah. Mengapa kamu tidak pernah mendengarkan perintah Ayah. Dari dulu beginilah sifatmu, Nak. Kamu selalu bertingkah seolah – olah patuh tapi diam – diam memberontak. Sekarang lihat apa yang terjadi. Kamu paham sifat ayah kan , Nak. Kalau ayah berkata “tunggu” kamu harus menunggu. Ayah bilang “tidak” artinya jangan kamu lakukan, Nak. Kamu sudah tahu hal ini dari dulu, kan ? Sekarang apa sanggahanmu, Nak? Jawab Ayah sekarang!”
Pak Amran mengguncang tubuh kaku Dita sambil terus meracau di samping pembaringan terakhir Dita yang terus mengguriskan wajah tersenyumnya. Awo dan ibunya berusaha menenangkan Pak Amran dan mengajaknya duduk di kursi tunggu.
“Dita bahkan belum sempat mendengar kata – kata betapa Ayah bangga punya anak sepertimu, betapa bahagianya Ayah saat mendengar kamu menjadi juara pidato Bahasa Inggris tingkat nasional, nak. Betapa Ayah ingin mengatakan kalau Ayah sangat bahagia waktu kamu membanggakan piala kaki empatmu, ingin Ayah langsung memelukmu hari itu, tapi Dita langsung meninggalkan ruangan tamu. Ingin rasanya Ayah langsung mendudukkanmu di pangkuan Ayah seperti kamu duduk di pangkuan Kak Awo. Seharusnya kamu mendengarnya dulu, nak.”
Pak Amran semakin tersedu dalam pelukan istrinya. Teringat akan ucapan terakhir Dita dalam kaset rekamannya yang juga menjadi kado terakhir untuk ayah...
”Yah, apapun yang terjadi yang pernah kita alami, Dita bangga dan bahagia menjadi anak Ayah dan Ibu. Dita bangga mempunyai ayah dan ibu yang menakjubkan dan dua kakak yang terbaik. Yah, maafkan Dita karena telah membuat mimpi terindah Ayah hancur berantakan. O, iya, Yah, kalaupun sesuatu terjadi pada Dita nanti, tolong jangan Ayah sia – siakan Kak Awo. Dia kakak yang sangat sempurna bagi Dita. Pasti Kak Awo bisa membahagiakan Ayah. Love you much, Dad. Muuahhh!! Happy Birthday untuk Ayahku tersayang. Semoga Ayah tambah sukses dan selalu memberikan kehangatan Ayah lagi untuk Dita. O iya, terakhir, Yah, SEMOGA KITA SEMUA BISA MENJADI HAMBANYA YANG LEBIH IKHLAS. Amiin!”
Kalimat terakhir diucapkan dengan penuh penekanan pada setiap katanya dan Dita mengakhiri kata – katanya diiringi backsound lagu favoritnya,
Now, it’s just too late I'm sorry I can't be perfect…
Nothing's gonna change the things that you said Nothing's gonna make this right again,
Nothing's gonna change the things that you said Nothing's gonna make this right again,
***
Langganan:
Komentar (Atom)
