Target
Farah berjalan di sepanjang koridor menuju kelasnya dengan riang seperti biasanya. Paginya sangat sempurna, namun kesempurnaan itu akan terganggu dalam hitungan beberapa detik karena beberapa langkah di belakangnya ada seorang siswa yang sedang terburu – buru berlari menyusulnya.
“Farah, jadilah peri penyelamatku sekali lagi.” Itu Diki, sahabat karib Farah sejak SD. Sudah menjadi kebiasaan baginya untuk menjadikan Farah sebagai malaikat penyelamat atas semua tugas dan PRnya.
“Aku juga belum buat, pembajak!” ujar Farah tak kalah memelasnya.
“Farah, tegakah dirimu melihatku, Diki, sahabat karibmu, dijemur di bawah tiang bendera oleh Pak Mas’ud?”
“Bagimu urusanmu, bagiku bukan urusanku.” Ujar Farah sok berkhotbah sambil terus berjalan menuju kelasnya.
“Far, tapi Kimia jam pertama. Tolonglah, please. Lima belas menit lagi bel masuk.”
Farah tetap tidak mempedulikan Diki. Ia meletakkan perlengkapan dan peralatan yang dibawanya di atas meja namun seperti biasa Diki secara tiba – tiba dan dengan ahlinya akan merebut tas Farah dan langsung mengambil buku ataupun tugas yang dibutuhkannya. Setelah itu… KABUR!
“Diki..! Kembalikan! Awas kalau terlambat!” Ancam Farah sambil berkacak pinggang.
“Nanti istirahat pertama.” Seru Diki sambil berlari keluar kelas.
“Kena bajak lagi?” Icha teman sekelas dan sahabat Farah mendekatinya sambil membantu merapikan peralatan yang baru saja didera gempa berskala Diki.
“Seperti yang kamu lihat sendiri.” Ujar Farah sambil mengangkat pundak dengan telapak tangan terbuka.
“Ada kabar terbaru, Bigos, Biang Gosip?” Farah mengalihkan pembicaraan.
“Tentu!” Icha langsung menjawab dengan tangkas. “Ingat Freddy?” Dengan ragu Farah menjawab dengan gelengan bingung.
“Freddy yang pernah sakau akibat kecanduan.” Bisik Icha perlahan di telinga Farah.
“O…iya aku ingat sekarang. Freddy yang telah mencoreng nama sekolah kita karena mengkonsumsi narkoba.” Ujar Farah dengan suara agak keras.
“Sttt! Jangan keras – keras.” Icha membekap mulut Farah namun Farah dengan sigap menyelamatkan mulutnya.
“Itu sudah menjadi rahasia umum sekolah kita, semua orang juga sudah tahu, kan ?”
“Iya, tapi kamu juga tidak perlu berbicara setengah teriak.” Farah nyengir dan mengagguk mengerti sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V sebagai ungkapan janji.
“Jadi, apa informasinya, Cha?”
“Nanti ceritanya dilanjutkan soalnya Bu Mayang…” Icha tidak menyelesaikan kata – katanya karena Bu Mayang, wali kelas mereka sudah tiba di depan kelas.
“Selamat pagi semuanya.”
“Pagi, Bu.” Seluruh siswa menjawab dengan kompak diketuai oleh Irham sang kapten dan juga sahabat Farah.
“Anak – anak, Ibu yakin kalian ingat Freddy?” Bu Mayang membuka pembicaraan kelas yang diamini oleh anggukan para siswa.
“Sekarang dia sedang dalam tahap pemulihan atas ketergantungannya terhadap obat – obatan. Jadi semuanya mohon beri dia bantuan moril.” Lanjut Bu Mayang.
“Bagus dong, bu. Jadi nama sekolah kita benar – benar bersih sekarang.” Bagus ikut mengomentari.
”Bagus!” Bu Mayang memelototi Bagus yang langsung menunduk.
“Jangan bicara begitu. Freddy tetap saudara kalian.” Bu Mayang langsung menuju meja guru dan memberi isyarat pada Irham, ketua kelas, untuk memimpin doa pagi.
***
“Dik, kabar tentang Freddy benar, ya?” Tanya Farah pada Diki yang kembali menghampiri kelasnya guna mengembalikan buku “rampasannya”.
“He-eh. Sekitar satu minggu ini dia sudah aktif seperti biasa, terlihat normal dan sehat.”jawab Diki cuek. “Eh, Far, makasih, ya PRnya.” Tapi Farah tidak terlalu mempedulikan ucapan terima kasih Diki.
“Cha, jangan sampai kita kecanduan seperti Freddy, seram.” Ujar Farah setengah bergidik.
“Ada – ada saja, Far.” Icha mengomentari ucapan Farah. “Dik, kalau kabar dia kena AIDS benar?”
“Husss. Jangan sembarangan!” Diki sedikit membentak Icha sambil duduk di kursi di depan meja farah dan Icha, pastinya langsung menyambar chiki Lays yang dengan tenangnya istirahat di meja kedua siswi itu.
“Jadi benar, ya?” Tanya Icha semakin penasaran.
“Banyak yang menyangka begitu,” Diki meletakkan sebentar chiki rampasannya rada enggan, “tapi sepertinya hanya gosip. Maklum dia sudah membuat nama sekolah kita tercoreng dengan keterlibatannya dalam narkoba. Jadi, mungkin saja kabar tersebut sebagai ungkapan sakit hati pada Freddy.” Lanjut Diki.
“Kamu kelihatannya yakin kalau Freddy bebas AIDS?” Farah ikut nimbrung.
“Kemarin Pak Mahdan yang ditunjuk jadi pembimbing Freddy sudah menjelaskan mengenai kondisi Freddy yang sebenarnya. Bahkan ada hasil tes lab rumah sakit.” Dengan mulut penuh remah Lays, Diki menjelaskan yang dia ketahui pada dua peri sekolahnya itu.
“O…” Icha sontak menjawab.
“Reaksinya terlalu bulat, Cha. Tapi pasti sulit dibayangkan kalau tertular AIDS. Jangan sampai aku ataupun yang lain tertimpa penyakit kutukan itu.”
“Tak seorangpun yang mengharapkannya, Far.” Diki mengebas – ngebas tangan dan celana seragamnya dari remah chiki dan bersiap meninggalkan kedua temannya tersebut. Dan tak lama berselang bel berakhir istirahat berbunyi.
“tet..tet..tet..”
Tak seorangpun dari ketiga sahabat tersebut menyadari bahwa pembicaraan singkat mereka pada jam istirahat tersebut akan menjadi sebuah bumerang di kemudian hari.
Beberapa minggu kemudian…
Kembali aktifnya Freddy di sekolah tidak terlalu membuat para siswa merasa risih meskipun di awal – awal kedatangannya juga masih menuai pandangan jijik dan dingin dari banyak siswa. Namun hal ini semakin berkurang seiring dengan bertambahnya kesibukan para siswa dalam mengikuti berbagai kegiatan sekolah, pembuatan tugas dan tentunya menghadapi berbagai kuis yang semakin gencar diadakan oleh berbagai guru.
Tidak ada perubahan yang berarti, paling tidak bagi siswa – siswa lainnya.
“Annadiyah Farahdiba.” Bu Mayang mengabsen siswanya.
“Absen, Bu.” Sahut Irham.
“Ada kabar?” Bu Mayang mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
”Kita semua tidak tahu, Bu. Sudah coba hubungi tapi nggak nyambung. Datang ke rumahnya kosong. Tapi nanti siang Icha akan menanyai Diki lagi.” Lanjut Irham.
Bu Mayang mengangguk lalu kembali melanjutkan memanggil nama – nama lainnya. Semua berjalan dengan biasa.
***
“Kamu yakin Diki berkata yang sebenarnya, Cha? Masak sih, orang tua Farah bercerai. Keluarga mereka kan adem ayem.” Irham merasa sangat tidak mungkin untuk mempercayai cerita Icha tentang apa yang terjadi pada Farah.
Icha, Irham, dan Bagus sengaja pulang terlambat karena ingin membahas tentang apa yang terjadi dengan Farah. Icha menceritakan semua yang didapatkannya dari Diki. Tak seorang pun yang menyadari kalau Freddy mendengarkan pembicaraan mereka dari luar kelas.
“Kita harus membantu Farah. Selama ini dia selalu aktif membantu kita semua.”
“Aku setuju dengan pendapatmu, Ham. Tapi bagaimana caranya? Kita tidak tahu menahu di mana Farah dan keluarganya sekarang. Kita cuma bisa minta tolong pada Diki. Tapi itupun belum tentu berhasil karena Diki juga merahasiakan tempat tinggal Farah yang baru. Dan kayaknya Diki nggak mau memberi tahu alamatnya pasti Farah sendiri yang sudah melarangnya. Kita semua tahu sifat Farah.” Ujar Bagus dengan nada putus asa. Mereka semua tahu Farah tidak pernah ingin melibatkan teman – temannya dalam semua permasalahan apapun yang dihadapinya.
Sudah sepuluh hari Farah bolos sekolah dan tak seorangpun yang bisa menghubunginya kecuali Diki. Tapi tidak mudah untuk mendapatkan informasi dari Diki. Dia sangat lebih berhati – hati lagi dalam menginformasikan apapun tentang Farah. Dia sangat rapi menutupi keberadaan Farah, sesuai dengan yang diinginkan sahabatnya itu tentunya.
Hari – hari mulai berubah bagi sahabat – sahabat itu. Ada sebagian keceriaan yang tertinggal dengan absennya Farah dari pergaulan mereka. Diki yang biasa pulang sambil meracaukan berbagai tugas yang tentunya akan meminta Farah untuk membantunya kini mesti pulang dengan gontai dan rada diam.
“Hei, Diki, tunggu.” Freddy berseru sambil setengah berlari kearah Diki.
“Eh, Lo, Fred. Ada apa?”
“Gue udah denger tentang Farah. Gak sengaja denger teman – temannya ngomong. Bisa kasih tahu di mana Farah.”
”Ada apaan,nih.tumben banget lo nanyain Farah?” sambil tak acuh Diki mulai berjalan lagi. Pikir hatinya “Ngapain ni orang, tiba – tiba muncul nanyain Farah. Emang dia siapanya Farah.”
“Weitss. Jangan curigaan gitu, dong.” Seru Freddy sambil menyusul Diki lagi yang berhasil membuyarkan pikiran Diki, “Gue cuma mau membantunya. Secara gue juga pernah berada di posisi dia. Nggak mau kan bintang sekolah kita jadi kayak gue dulu.” Jelas Freddy dengan menyakitkan. “Suer, Dik. Gak enak jadi kayak gue. Gak mungkin kan kita tega liat Farah jadi terlalu down terus jadi korban keganasan duniawi.”
“Sumpah, Dik. Gue yakin, sekarang ini Farah pasti ngerasa shock banget. Dia butuh teman sharing. Dan gue ngerti perasaan temen loe itu. Gue juga produk broken home, Dik.” Terdapat nada ketulusan dalam ucapan Freddy.
Diki memikirkan kata – kata Freddy. Ia sadar bahwa orang seperti Freddy pasti bisa membantu Farah mengingat kesamaan permasalahan yang pernah dihadapinya. Selama dua minggu ini dia rutin mengunjungi Farah tapi dia sadar dia tidak sepenuhnya bisa membantu Farah karena dia tidak pernah mengalami hal yang sama. Terjadi pergulatan singkat dalam batinnya mengingat siapa yang sedang berbicara dengannya tapi melihat gelagat yang ada, Diki merasakan ketulusan dalam ucapan Freddy.
“Loe benar juga. Gue nggak tahu lagi siapa yang bisa bantuin Farah. Dia sangat kacau dan terpukul dengan perpisahan orang tuanya. Keluarga juga sama sekali nggak nyangka kalau papanya selama lima tahun ini selingkuh dari mamanya. Farah syok dan malu bertemu teman – teman. Papa yang selama ini sangat dibanggakannya telah membuat Farah merasa sangat malu sering menyatakan alangkah bangganya ia dengan papanya itu.” Freddy mendengarkan Diki dengan seksama.
“Loe serius mau bantu, Fred?” Diki menatap Freddy dengan seksama yang dibalas dengan anggukan mantap Freddy.
“Kasus Farah sama dengan yang gue alamin dulu, Dik. Jadi gue pasti bisa bantu. Kapan gue bisa ketemu Farah? Dan kayak gue bilang tadi, gue nggak mau bintang sekolah kita jatuh ke jurang yang sama kayak yang gue alami dulu.” Diki tersentuh dengan ucapan Freddy.
“Oke, Fred, kalo loe memang serius mau bantuin Farah besok gue tunggu di warung depan itu. Jangan sampai ada yang tahu.” Ucap Diki sambil melirik warung yang dimaksud. Freddy mengangguk mengerti.
“Oke,deh. Besok gue tunggu loe di depan warung itu. Gue cabut dulu ya.” Ujar Freddy sambil berlalu dari Diki.
***
Siang itu Diki mengajak Freddy datang ke rumah Farah dan seperti ucapannya Freddy memang menunjukkan niat untuk membantu Farah. Dan ternyata keputusan Diki untuk melibatkan Freddy memang memberikan dampak positif bagi perkembangan moral Farah. Kehadiran Freddy di kehidupan Farah merupakan obat yang mujarab bagi masa suramnya. Freddy banyak membantu Farah kembali menemukan semangat hidupnya. Mama Farah pun merasa sangat berterima kasih atas kesediaan Freddy untuk membantu putrinya. Seminggu setelah diajak Diki ke rumah Farah Freddy tak pernah absen mengunjunginya.
“Apa kabar, Far?”
“Top. Thanks ya, berkat kamu dan Diki aku jauh lebih kuat sekarang mungkin besok aku sudah siap sekolah.” Diki dan Freddy tersenyum senang mendengar ucapan Farah.
***
Minggu demi minggu berlalu, setelah hampir tiga bulan Farah benar – benar lupa masalahnya. Kini Farah telah menemukan keceriaan dan semangat belajarnya. Ia juga semakin akrab dengan Freddy dan mungkin agak bergantung. Semua teman – temannya terutama Diki dan anak – anak di kelasnya sangat senang melihat keceriaan dan semangatnya. Tapi di satu sisi, Diki, Icha, Bagus dan Irham merasakan sedikit kejanggalan dalam sikap keseharian Farah setelah ia semakin akrab dengan Freddy. Ia sering terlihat melamun, namun terkadang mereka menganggap kalau Farah sedang jatuh cinta saja. Jadi mereka tidak terlalu ambil pusing dengan beberapa perubahan Farah karena mereka anggap itu wajar bagi yang baru pertama kali mengenal asmara seperti Farah.
***
“Teman – teman, kurang dari dua bulan lagi ujian akhir. Jadi besok kita harus ikut general check up. Tim medis Dinkes akan datang ke kelas kita saat pelajaran Bu Mayang.” Irham menyampaikan info mengenai akan adanya tess kesehatan pada teman – teman sekelasnya. Dan disambut dengan perasaan senang dari pojok para siswa dan disambut dengan muka meringis dari para siswi yang ketakutan membayangkan jarum suntik.
***
***
“Cha, Farah kenapa?” Diki tiba – tiba muncul.
“Aku juga gak tahu, Dik. Setelah baca hasil check up dia langsung pingsan.” Penuh dengan ekspresi bingung dan sambil mondar – mandir di depan pintu UKS dan tidak menyadari kalau sedari tadi dia terus memegang kertas hasil pemeriksaan Farah sebelum Diki yang tiba – tiba langsung merebut kertas tersebut.
“Apa? Farah nggak mungkin...” Suara Diki otomatis menghentikan gerak mondar – mandir Icha. Icha merebut kembali kertas tersebut dari Diki. “AIDS? Mustahil!”
“AIDS apaan sih, Cha?” Icha menyerahkan kertas tadi pada Irham dan Bagus yang juga dari tadi berdiri di sana .
Sementara itu…
“ha … ha…ha…, pasti semuanya syok berat”
“Loe yakin dia positif, Fred? Kok bisa?”
“Pernah beberapa kali dia gue inject dengan jarum bekas gue.”
“Jelasnya?”
“Saat dia depresi, gue langsung menawarkan bantuan dan gue sering memasukkan “ramuan kita” ke dalam minumanya. Saran loe asli manjur, Bon.”
“Itulah hebatnya gue, Boni, The Master of “Flying” Stuffs.” Sahut Boni. “Asli! Gila banget, ni orang.” Boni diam sejenak guna menyesap rokoknya, “Jadi gak ada yang tahu kalo loe AIDS.” Boni menggeleng – gelengkan kelapa sambil melepaskan sesapan rokoknya hingga penuh asap mengepul.
“Of course. Sebenanya gue pengen loe liat, Bon gimana memelasnya wajah tu cewek buat selalu gue temenin.” Freddy terus tertawa penuh kemenangan. “Fred, thanks ya udah mau jadi teman curhatku, aku nggak tahu gimana jadinya hari – hariku kalau kamu nggak diajak Diki ke kemari. Fred, Fred,” Freddy kembali tertawa terbahak – bahak, “Geli banget gue dengernya, Bon. Fred…Fred,” Freddy menirukan gaya bicara Farah. Mereka terus bicara panjang lebar mengenai target yang telah mereka capai sambil terus ditemani kepulan asap rokok.
“Terus semangat,Bon. Kita harus menghabisi orang – orang yang sok sempurna dari hadapan kita.”lanjut Freddy.
“Maksud loe, Fred?” Boni belagak pilon.
“Jangan sok lugu, Bon?”
“Loe udah punya target baru?”
“He eh.”
“Siapa? Temen tu cewek?”
“Gak level. Gue mau nyerang cowok sok perfect dan sok alim di sekolah gue, si ketua OSIS.”
“Loe, tu emang udah kebanyakan obat, ya, Fred. Awas, ntar kedok tobat loe kebongkar.”
“Tenang, sob. Selagi loe siap bantu gue, kita pasti berhasil nyingkirin orang – orang sok itu. Mereka harus rasain gimana rasanya dicemooh dan disingkirkan.”
“Yoi, bro. Fred, gue udah kebelet nyimeng nih. Udah, ya.”
“Oke,oke Bro. Have fun, bro.” Boni langsung mematikan HPnya dan kembali ke dunia fantasianya.
Freddy juga segera mengakhiri panggilan dengan senyum penuh kemenangan dan ia juga kembali ber”flying” ria tanpa mempedulikan nasib yang telah terjadi pada “korbannya”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar